තෙරුවන් සරණයි!
Sukhi Hotu Kalyāṇamitta
MENGATASI PENGOTOR BATHIN (KILESA LŌBHA) YAITU NAFSU KESERAKAHAN YANG MUNCUL TERKAIT DENGAN MAKANAN
Ajaran Buddha Sāsana ini adalah Ajaran yang bertujuan untuk memerangi Pengotor Bathin (Kilesa) di dalam diri kita masing-masing sendiri, dan BUKAN memerangi sosok-sosok Entitas di luar diri yang biasanya "berperan" sebagai karakter Antagonis khas agama kepercayaan mayoritas yang biasanya entitas ini "disalahkan" atas segala kesalahan/"dosa" yang dilakukan seseorang. Jadi cara pandang atau Pandangan ini haruslah dirubah dulu jika kita ingin melanjutkan Praktik menuju Pembebasan Sejati.
Dan salah satu Pengotor Bathin (Kilesa) itu adalah kilesa Lōbha (Keserakahan) yang selalu hadir di dalam diri kita setiap saat. Bermanifestasi dalam segala lini kehidupan kita, mempengaruhi kita untuk selalu ingin lagi dan lagi, tidak pernah puas, wujud kemelekatan terhadap segala sesuatu hal, dalam hal ini salah satu nya adalah makanan. Harus kita semua akui bahwa kita semua juga terjerat pada bentuk-bentuk makanan yang enak di lidah kita, menginginkan lagi dan lagi, itulah wujud Kilesa Lōbha yang menguasai diri kita ini. Sekarang, apa Sabda Sang Bhagavā terkait pada sifat kita terhadap Makanan ini ? Mari disimak dalam Sutta dibawah berikut ini...
APAṆṆAKASUTTA
“Dan bagaimanakah seorang bhikkhu menjalankan praktik makan secukupnya? Di sini, dengan merefleksikan secara seksama, seorang bhikkhu memakan makanannya bukan demi kesenangan juga bukan demi kemabukan juga bukan demi kecantikan fisik dan kemenarikan, melainkan hanya untuk mendukung dan memelihara tubuh ini, untuk menghindari bahaya, dan untuk membantu kehidupan suci, dengan pertimbangan: ‘Demikianlah aku akan mengakhiri perasaan lama dan tidak membangkitkan perasaan baru, dan aku akan menjadi sehat dan tanpa cela dan berdiam dengan nyaman.’ Demikianlah seorang bhikkhu menjalankan praktik makan secukupnya.
(dikutip dari : Tipiṭaka, Suttapiṭaka, Aṅguttaranikāya, Tikanipāta, Paṭhamapaṇṇāsaka, Rathakāravagga, AN 3.16)
Sādhu...Sādhu...
Demikianlah Sabda Sang Bhagavā ; Sammāsaṃbuddha Gotama terkait pada sikap kita (perenungan) yang seharusnya dilakukan terhadap Makanan ini.
Seperti sudah dikatakan di atas, bahwa memang Ajaran Buddha Sāsana ini eksis untuk mengentaskan penderitaan, dengan menghancurkan biang keladi nya yaitu Pengotor Bathin (Kilesa), maka jika kita adalah Makhluk yang memang bercita-cita menggapai Pembebasan Sejati, seharusnya kita harus mampu mempraktekkan Dhamma sesuai Dhamma (Dhammānudhamma) seperti yang telah di Sabdakan oleh Sang Bhagavā diatas. Memang, Tak dipungkiri bahwa dalam Konteks ini, Sang Buddha mengajarkan tentang perlakuan perenungan terhadap makanan ini yang ditujukan khusus kepada para Bhikkhu, namun kita juga tak ada salahnya melakukan perenungan terhadap makanan setiap kali kita akan memakan makanan apapun. Ini adalah kebiasaan yang baik dan sesuai serta selaras dengan Dhamma, dan apapun yang sesuai dengan Dhamma patutlah tentu harus dipraktikkan jika kita ingin mencapai Pembebasan Sejati (Nibbāna).
Semoga Cita-Cita luhur anda tercapai
Semoga semua Makhluk Hidup berbahagia..
Nibbāna paccayaṃ hotu
Ciraṁ tiṭṭhatu saddhammo
Buddhasāsanaṁ ciraṁ Tiṭṭhatu
Sādhu...Sādhu...
13 November 2025
Mettācittena,
Viriyaputta, upāsaka
