Dalam Buddha Sasana, Sejatinya Tidak Ada Kiamat, Hanya Proses Yang Berkesinambungan


Theruwansaranai!
තෙරුවන් සරණයි!
Sukhi Hotu Kalyāṇamitta

DALAM BUDDHA SĀSANA, SEJATINYA TIDAK ADA "KIAMAT", AKAN TETAPI HANYA ADA SEBUAH "PROSES YANG BERKESINAMBUNGAN"
Inilah Ajaran Buddha Sāsana yang adalah Dhamma Sejati (Tipiṭaka pāḷi), yang menceritakan kebenaran sebagaimana adanya (otentik) sesuai Sabda Sang Bhagavā ; Sammāsaṃbuddha Gotama.
Dalam Kitab Suci kita, terdapat sebuah bab dalam kitab yang dimana menceritakan sebuah keadaan dimana kalau di"cocoklogikan" dengan Ajaran kepercayaan lain, ini mirip seperti kondisi "Akhir Zaman" seperti yang mereka sebut. Kalau dilihat/dibandingkan sekilas memang nampak mirip, namun sebenarnya banyak perbedaan yang kontras, dimana Ajaran Buddha Sāsana ini tidak mengenal kata "akhir", atau yang mereka sebut "kiamat", melainkan (kalau dicocoklogikan) kondisi "Akhir Zaman" ataupun "kiamat" versi mereka hanyalah sebuah proses berkesinambungan bagi kita, itu tak sepenuhnya berakhir, tetapi akan berjalan kembali sesuai hukum alam semesta yang berlaku yang disebut sebagai (Niyāma).
Pada hari sebelumnya telah diceritakan kondisi masa lampau kehidupan manusia, dan sekarang tiba saatnya untuk cerita yang akan (pasti) terjadi di masa depan, mari disimak Sutta berikut ini dibawah...

CAKKAVATTISUTTA
..... ‘Para bhikkhu, akan tiba saatnya ketika anak-anak dari orang-orang ini memiliki umur kehidupan selama hanya sepuluh tahun. Dan bersama mereka, anak-anak perempuan akan menikah pada usia lima tahun. Dan bersama mereka, rasa-rasa kecapan ini akan lenyap: ghee, mentega, minyak-wijen, sirup dan garam. Di antara semua itu, padi-kudrūsa akan menjadi makanan pokok, seperti halnya nasi dan kari pada masa sekarang. Dan bersama mereka, SEPULUH PERBUATAN BERMORAL (DASA KUSALA KAMMA) AKAN LENYAP SAMA SEKALI, DAN SEPULUH KEJAHATAN (DASA AKUSALA KAMMA) AKAN MENINGKAT PESAT: karena mereka yang memiliki umur kehidupan sepuluh tahun, tidak memahami kata “moral”, jadi bagaimana mungkin ada orang yang dapat melakukan perbuatan bermoral?

..... 'Di antara mereka yang memiliki umur kehidupan sepuluh tahun, tidak ada yang dianggap ibu atau bibi, saudara ibu, istri guru atau istri ayah dan lain-lain—semua dianggap sama di dunia ini seperti kambing dan domba, unggas dan babi, anjing dan serigala. Di antara mereka, permusuhan sengit akan terjadi satu sama lain, kebencian hebat, kemarahan sengit dan pikiran membunuh, ibu melawan anak dan anak melawan ibu, ayah melawan anak dan anak melawan ayah, saudara laki-laki melawan saudara laki-laki, saudara laki-laki melawan saudara perempuan, bagaikan pemburu yang merasakan kebencian terhadap binatang yang ia buru …

‘Dan bagi mereka yang memiliki umur kehidupan sepuluh tahun, akan terjadi suatu “interval-pedang” selama tujuh hari, selama itu mereka akan menganggap satu sama lain sebagai binatang buas. Dengan pedang tajam yang muncul di tangan mereka dan, berpikir: “Ada binatang buas!” mereka akan saling membunuh dengan pedang itu. Tetapi akan ada beberapa yang berpikir: “Mari kita menjaga agar jangan sampai membunuh atau terbunuh oleh siapapun! Mari kita pergi ke padang rumput atau hutan belantara atau rumpun pepohonan, ke sungai-sungai yang sulit diseberangi atau yang tidak terjangkau, dan hidup dari akar-akaran dan buah-buahan hutan.” Dan inilah yang mereka lakukan selama tujuh hari. Kemudian, di akhir dari tujuh hari itu, mereka akan keluar dari tempat persembunyian mereka dan bergembira, berkata: “Orang-orang baik, aku melihat bahwa engkau hidup!” Dan kemudian pikiran ini muncul dalam benak orang-orang itu: “Karena kita menyukai kejahatan sehingga kita menderita kehilangan keluarga kita, karena itu marilah kita sekarang berbuat baik! Hal baik apakah yang dapat kita lakukan? Mari kita menghindari pembunuhan—itu akan menjadi suatu praktik yang baik.” Dan demikianlah mereka menghindari pembunuhan, dan, setelah berusaha menerima hal-hal bermanfaat itu, mari mereka mempraktikkannya. Dan dengan berusaha menjalankan hal-hal bermanfaat itu, umur kehidupan dan kecantikan mereka meningkat. Dan anak-anak dari mereka yang memiliki umur kehidupan sepuluh tahun, hidup selama dua puluh tahun.

‘Kemudian orang-orang itu berpikir: “Karena melakukan praktik-praktik bermanfaat maka kita telah meningkat dalam hal umur kehidupan dan kecantikan, karena itu mari kita melakukan lebih banyak lagi praktik-praktik bermanfaat. Mari kita menghindari perbuatan mengambil apa yang tidak diberikan, menghindari melakukan hubungan seksual yang salah, menghindari berbohong, menghindari memfitnah, menghindari ucapan kasar, menghindari pembicaraan yang tidak berguna, menghindari keiri-hatian, menghindari permusuhan, menghindari pandangan salah, mari kita menghindari tiga hal ini: hubungan seksual sedarah, keserakahan berlebihan, dan praktik-praktik menyimpang; mari kita menghormati ibu dan ayah kita, para petapa dan Brahmana, dan para pemimpin suku dan mari kita menekuni perbuatan-perbuatan bermanfaat ini.”

‘Dan demikianlah mereka melakukan hal-hal itu, dan karena itu mereka mengalami peningkatan dalam hal umur kehidupan dan kecantikan. Dan anak-anak dari mereka yang memiliki umur kehidupan dua puluh tahun, akan hidup selama empat puluh tahun, anak-anak mereka akan hidup selama delapan puluh tahun, anak-anak mereka hidup selama seratus enam puluh tahun, anak-anak mereka hidup selama tiga ratus dua puluh tahun, anak-anak mereka hidup selama enam ratus empat puluh tahun; anak-anak dari mereka yang memiliki umur kehidupan enam ratus empat puluh tahun, akan hidup selama dua ribu tahun, anak-anak mereka hidup selama empat ribu tahun, anak-anak mereka hidup selama delapan ribu tahun, dan anak-anak mereka hidup selama dua puluh ribu tahun. Anak-anak dari mereka yang memiliki umur kehidupan dua puluh ribu tahun, akan hidup selama empat puluh ribu tahun, anak-anak mereka hidup selama delapan puluh ribu tahun.

‘Di antara mereka yang memiliki umur kehidupan delapan puluh ribu tahun, anak-anak perempuan menikah dalam usia lima ratus tahun. DAN ORANG-ORANG PADA MASA ITU HANYA MENGETAHUI TIGA JENIS PENYAKIT: KESERAKAHAN, LAPAR DAN USIA TUA. Dan pada masa itu, benua Jambudīpa akan kuat dan makmur, dan jarak antar desa dan kota hanya sejauh jarak terbang ayam antara satu sama lainnya. Jambudīpa ini seperti Avīci, ramai oleh manusia bagaikan hutan belantara yang dipenuhi tanaman merambat dan semak belukar. Pada masa itu, Vārāṇasi sekarang adalah kota kerajaan yang bernama Ketumatī, kuat dan makmur, ramai oleh orang-orang dan memiliki persediaan yang sangat mencukupi. Di Jambudīpa akan terdapat delapan puluh empat ribu kota dengan Ketumatī sebagai ibukota kerajaan."
(dikutip dari : Tipiṭaka, Suttapiṭaka, Dīghanikāya, Pāthikavagga, DN 26)

Sādhu...Sādhu...
Demikianlah Sutta yang luar biasa ini dibabarkan oleh Sang Bhagavā ; Sammāsaṃbuddha Gotama.
Kita pada saat ini, tiba pada suatu fakta yang tak terelakkan, bahwa kita sedang menuju pada kondisi seperti yang diceritakan di awal kutipan Sutta di atas, Yaitu Menuju kepada keterpurukan kehidupan manusia yang maksimum, dan ini akan terjadi dalam waktu yang masih panjang lagi, ribuan atau puluhan ribu tahun dari sekarang. Kondisi seperti itu sungguh sangatlah tak terbayangkan dan mengerikan tak terkirakan, sangat menderita, kita dahulu selama perjalanan di Saṃsāra pasti telah pernah melalui masa itu, dan akankah dimasa depan kita akan kembali MENGULANGI NYA DENGAN TERLAHIR KEMBALI DI MASA ITU ??!
Sekarang setelah menyimak kutipan Sutta diatas, maka bisa Kalyāṇamitta putuskan, bahwa TIDAK ADA KONDISI YANG DISEBUT "KIAMAT" DI AJARAN Buddha Sāsana. Karena berdasarkan cerita "akhir zaman" versi mereka, setelah kekacauan besar di dunia, maka dunia ini akan musnah, namun tidak demikian dengan Ajaran Guru Agung kita, karena setelah kekacauan atau keterpurukan besar itu, akan ada kondisi dimana manusia akan kembali bangkit dan perlahan-lahan akan mulai berangsur membaik kondisi kehidupan nya hingga akhirnya mencapai tingkat maksimum yang bisa dicapai oleh manusia sesuai yang diceritakan di Sutta diatas.
Lalu, apa pesan penting yang bisa kita dapatkan dari khotbah Sang Buddha ini ?? Yaitu kita menjadi tahu dengan jelas bahwa ternyata Sīla (moralitas) itu sangat luar biasa efeknya. Mampu membuat manusia sejahtera dan juga mampu menjatuhkan manusia sedalam-dalamnya. Janganlah kita meremehkan Sīla dasar (pañcasīla) yang hanya berisi 5 macam standard moralitas ini, hormatilah dan jalankan pañcasīla ini dengan benar dan sempurna! Dan perlahan tingkatkan dengan menghindari 10 perbuatan buruk (Dasa Akusala Kamma). Kita yang berbuat, kita juga yang akan menerima akibatnya jadikan kondisi dari menjaga Sīla dengan benar dan sempurna ini sebagai penunjang kita untuk segera mencapai Nibbāna. karena waktu berjalan terus, yang artinya penderitaan akan terus berjalan tanpa henti! Katakanlah dengan lantang : "Sudah cukup untuk segala penderitaan di Saṃsāra ini!"

Semoga Cita-Cita luhur anda tercapai
Semoga semua Makhluk Hidup berbahagia..
Nibbāna paccayaṃ hotu
Ciraṁ tiṭṭhatu saddhammo
Buddhasāsanaṁ ciraṁ Tiṭṭhatu
Sādhu...Sādhu...

23 November 2025
Mettācittena,
Viriyaputta, upāsaka