Manusia Berandai-andai Terlahir Di Sorga, Realitanya Malah Nyungsep Ke Alam Menderita


Theruwansaranai!
තෙරුවන් සරණයි!
Sukhi Hotu Kalyāṇamitta

MANUSIA TERLALU BERANDAI-ANDAI DAN BERFANTASI TERLAHIR DI SORGA SETELAH MENINGGAL, REALITANYA MALAH NYUNGSEP KE 3 ALAM MENDERITA
Manusia ini ciri-ciri nya adalah paling suka berfantasi dan berandai-andai "terlalu tinggi", salah satunya soal terlahir di Sorga bahagia setelah meninggal. Namun apakah bisa begitu?? Tentu saja yang namanya fantasi itu adalah khayalan kosong belaka. Banyak manusia di dunia ini dengan berbagai kepercayaan mereka yang "menjanjikan Sorga" tetapi tingkah laku mereka ini bukanlah mencirikan "penghuni Sorga", malah mencirikan manusia calon penghuni 3 alam rendah (Neraka, Peta Kelaparan, Binatang). Karena apa ?? Ya karena Pandangan Salah yang akut diyakini yang mengarah pada tingkah laku yang melanggar Dhamma secara umum. Manusia-manusia ini bisa dikatakan sebagai "Makhluk Saṃsāra" karena mereka tidak menuju ke jalan melepaskan diri dari Saṃsāra.
Mari disimak Sabda Sang Bhagavā dalam Sutta dibawah berikut ini...

MANUSSACUTIDEVANIRAYĀDISUTTA
Sang Bhagavā mengambil sedikit tanah dengan ujung kuku jariNya dan berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut:

“Para bhikkhu, bagaimanakah menurut kalian, mana yang lebih banyak: sedikit tanah yang Kuambil di ujung kuku jari tanganKu ini atau tanah di seluruh bumi ini?”

“Yang Mulia, tanah di seluruh bumi ini lebih banyak. Sedikit tanah yang Bhagavā ambil di ujung kuku jari tangan Beliau adalah tidak berarti. Dibandingkan dengan bumi ini, sedikit tanah itu tidak perlu dihitung, tidak dapat dijadikan perbandingan, tidak sebanding bahkan dengan sebagian kecilnya.”

“Demikian pula, para bhikkhu, hanya sedikit makhluk-makhluk yang, ketika meninggal dunia sebagai manusia, terlahir kembali di antara para deva. Tetapi banyak sekali makhluk-makhluk yang, ketika meninggal dunia sebagai manusia, terlahir kembali di alam neraka … di alam binatang … di alam setan … Karena alasan apakah? Karena, para bhikkhu, mereka belum melihat Empat Kebenaran Mulia. Apakah empat ini? Kebenaran mulia penderitaan, kebenaran mulia asal-mula penderitaan, kebenaran mulia lenyapnya penderitaan, kebenaran mulia jalan menuju lenyapnya penderitaan.
(dikutip dari : Tipiṭaka, Suttapiṭaka, Saṁyuttanikāya, Mahāvaggasaṁyutta, Saccasaṁyutta, Pañcagatipeyyālavagga, SN 56.105–107)

Sādhu...Sādhu...
Demikianlah Sabda Sang Bhagavā ; Sammāsaṃbuddha Gotama yang sebenar-benarnya. Sudah berulang kali disampaikan disini bahwa adalah keberuntungan besar bagi kita dapat bertemu Buddha Sāsana ini di masa kehidupan sekarang, karena hanya DISINILAH ada jalan keluar dari Saṃsāra. dan lihatlah mayoritas manusia di dunia ini, menggeluti berbagai macam model Pandangan Salah, mereka ini lah seperti yang dikatakan tadi adalah "Makhluk Saṃsāra" yang patut dikasihani, sebab mereka masih akan lama perjalanan di Saṃsāra ini, Kepercayaan mereka tidak diajarkan 4 Kebenaran Mulia dan akan berpotensi besar bolak-balik "terjun" ke 3 alam penderitaan karena ulah tindakan mereka sendiri, bukan ulah entitas apapun.
Sabda Sang Bhagavā ini adalah kebenaran sebagaimana adanya, jika tidak mempercayai nya tentu tidak masalah, kita dahulu nya selama perjalanan di Saṃsāra, juga pernah meragukan Dhamma Sejati, dan sebagai akibatnya kembali bolak-balik di Saṃsāra. namun kini janganlah ragu, tetapi milikilah Saddhā dan tetap konsisten praktikkan Dhamma demi tujuan luhur mencapai Nibbāna. meskipun bila saat ini kita tidak mencapai tujuan yang paling tinggi Nibbāna, namun Dhamma yang kita praktikkan ini berbentuk Pāramī yang otomatis akan Menjauhkan diri kita dari 3 alam penderitaan, dan malah membawa kita menuju kelahiran ke alam Sorga.

Semoga Cita-Cita luhur anda tercapai
Semoga semua Makhluk Hidup berbahagia..
Nibbāna paccayaṃ hotu
Ciraṁ tiṭṭhatu saddhammo
Buddhasāsanaṁ ciraṁ Tiṭṭhatu
Sādhu...Sādhu...

13 Oktober 2025
Mettācittena,
Viriyaputta, upāsaka