Berlatih Mengendalikan Pintu Indera Berarti Berlatih Mengembangkan Kebijaksanaan


Theruwansaranai!
තෙරුවන් සරණයි!
Sukhi Hotu Kalyāṇamitta

BERLATIH MENGENDALIKAN PINTU INDERA BERARTI BERLATIH MENGEMBANGKAN KEBIJAKSANAAN
Setiap Makhluk Hidup memiliki Indera nya masing-masing (bila tidak cacat fisik). Dan sebagai manusia lebih dikenal akan adanya Panca Indera. Namun di dalam Buddha Sāsana ini, Pikiran termasuk salah satu indera, sebab Pikiran inilah yang memproses "input" dari masing-masing Panca Indera ini.
Dan sebagaimana kita ketahui bahwa memang Panca Indera ini dalam kehidupan sehari-hari sangat berpotensi besar "menghadirkan" Kilesa (pengotor bathin) yang patut kita waspadai. Karena sejatinya jika kita tidak berwaspada/mawas diri, tentu Pintu-pintu indera ini pasti akan diserang kilesa. entah itu berbentuk ketidaksukaan (Dosa) ataupun kemelekatan (Lobha) adalah sama-sama buruk nya. Inilah faktanya yang tak dapat dipungkiri. jadi berikut ini sedikit kesimpulan dari Sutta Tipitaka terkait hal ini, mari disimak..

Chachakkasutta
.... "Enam kelompok ketagihan harus dipahami.’ Demikianlah dikatakan. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan? Dengan bergantung pada mata dan bentuk-bentuk, muncul kesadaran-mata; pertemuan ketiga ini adalah kontak; dengan kontak sebagai kondisi maka muncul perasaan; dengan perasaan sebagai kondisi maka muncul ketagihan. 

Dengan bergantung pada telinga dan suara-suara, muncul kesadaran-telinga; pertemuan ketiga ini adalah kontak; dengan kontak sebagai kondisi maka muncul perasaan; dengan perasaan sebagai kondisi maka muncul ketagihan.

Dengan bergantung pada hidung dan bau-bauan, muncul kesadaran-hidung; pertemuan ketiga ini adalah kontak; dengan kontak sebagai kondisi maka muncul perasaan; dengan perasaan sebagai kondisi maka muncul ketagihan.

Dengan bergantung pada lidah dan rasa kecapan, muncul kesadaran-lidah; pertemuan ketiga ini adalah kontak; dengan kontak sebagai kondisi maka muncul perasaan; dengan perasaan sebagai kondisi maka muncul ketagihan.

Dengan bergantung pada badan dan objek-objek sentuhan, muncul kesadaran-badan; pertemuan ketiga ini adalah kontak; dengan kontak sebagai kondisi maka muncul perasaan; dengan perasaan sebagai kondisi maka muncul ketagihan.

Dengan bergantung pada pikiran dan objek-objek pikiran, muncul kesadaran-pikiran; pertemuan ketiga ini adalah kontak; dengan kontak sebagai kondisi maka muncul perasaan; dengan perasaan sebagai kondisi maka muncul ketagihan. Adalah sehubungan dengan hal ini maka dikatakan: ‘Enam kelompok ketagihan harus dipahami.’ Ini adalah kelompok enam ke enam."
(dikutip dari : Majjhimanikāya, Uparipaṇṇāsa, Saḷāyatanavagga, MN 148)_

Sādhu...Sādhu...
Ajaran yang sangat luhur ini yang membawa pada pembebasan sejati, Hanya ada didalam agama Buddha baru bisa ditemukan penjelasan sedemikian detail terkait pada pengendalian Indera ini. Jika ajaran lain hanya berkutat pada hal-hal eksternal, Agama Buddha hadir secara berbeda dengan lebih banyak berkutat pada internal diri ini.
Karena sejatinya hal-hal diluar diri (eksternal) itu tak dapat kita kendalikan secara total, tetapi bathin ini dengan indera-indera kita ini dapat kita kendalikan secara total dalam kuasa kita tentunya dengan cara-cara luhur dari yang Sang Buddha berikan.
Kalau kita berpikir secara bijaksana, memang adalah suatu kebenaran bahwa sebenarnya dalam diri kita inilah sumber masalah sebenarnya. bukan hal di luar diri yang pada dasarnya bersifat netral. Kilesa dalam bathin kita yang berulah, jangan salahkan siapa-siapa.
Jadi sekarang tergantung pada kita untuk dapat sepenuhnya mempraktekkan cara-cara luhur yang dibabarkan oleh Sang Bhagavā ; Sammāsambuddha Gotama, demi kebaikan bagi kita sendiri para Makhluk awam yang sudah menderita di tak terhitung kalpa karena PANDANGAN SALAH dan kekeliruan dalam menyikapi realitas kehidupan yang sebenarnya tak luput dari Tilakkhana (anicca, dukkha, dan anattā)

Semoga Cita-Cita luhur anda tercapai
Semoga semua Makhluk Hidup berbahagia..
Nibbāna paccayaṃ hotu
Ciraṁ tiṭṭhatu saddhammo
Buddhasāsanaṁ ciraṁ Tiṭṭhatu
Sādhu...Sādhu...

15 September 2025
Mettācittena,
Viriyaputta, upāsaka