Theruwansaranai!
තෙරුවන් සරණයි!
Sukhi Hotu Kalyāṇamitta
PERENUNGAN YANG WAJIB DILAKUKAN SETIAP HARI ADALAH BAHWA KITA MENGALAMI PENUAAN YANG TIDAK DAPAT DIHINDARI
Kalyāṇamitta sekalian, dalam kehidupan kita setiap harinya yang selalu disibukkan akan rutinitas yang bisa dikatakan tiada akhir karena terus berlanjut (kontinuitas) setiap hari nya. Sehingga membuat kita terlena dengan tetap menjalankan rutinitas kita tersebut.
Lalu kemudian, tanpa kita sadari bahwa ternyata umur kita "tiba-tiba" sudah bertambah tua, tenaga (stamina) kita mulai melemah, rambut putih mulai muncul di kepala, dan faktor-faktor lain nya lagi yang terkadang kita tidak sadari namun jelas terjadi pada kita.
Lalu kemudian kita mungkin me'Review' (mengevaluasi) diri kita sendiri mengenai apa yang sudah kita lakukan selama ini, dan beruntunglah jika itu adalah hal-hal baik dan benar yang kita lakukan selama ini, namun apabila yang dilakukan selama ini ternyata buruk, jahat, tidak bermanfaat, maka dipastikan akan timbul rasa penyesalan dalam bathin ini. Mengingat bahwa waktu tak dapat diputar balik lagi maka yang tersisa pasti hanya penyesalan.
Maka oleh karena itu, ajaran di Buddha Sāsana ini mengajarkan kita untuk hidup penuh penyadaran sebelum timbul penyesalan di kemudian hari.
Mari simak sabda Sang Buddha di sutta berikut...
ABHIṆHAPACCAVEKKHITABBAṬHĀNASUTTA
“Para bhikkhu, ada lima tema ini yang harus sering kali direnungkan oleh seorang perempuan atau laki-laki, oleh seorang perumah tangga atau seorang yang meninggalkan keduniawian.
Apakah lima ini?
Seorang perempuan atau laki-laki, seorang perumah tangga atau seorang yang meninggalkan keduniawian, harus sering kali merefleksikan sebagai berikut: ‘Aku tunduk pada usia tua; aku tidak terbebas dari usia tua.’
“Demi manfaat apakah maka seorang perempuan atau laki-laki, seorang perumah tangga atau seorang yang meninggalkan keduniawian, harus sering kali merefleksikan sebagai berikut: ‘Aku tunduk pada usia tua; aku tidak terbebas dari usia tua’? Pada masa muda mereka, makhluk-makhluk dimabukkan oleh kemudaan mereka, dan ketika mereka dimabukkan oleh kemudaan mereka maka mereka melakukan perbuatan salah melalui jasmani, ucapan, dan pikiran. Tetapi ketika mereka sering kali merefleksikan tema ini, maka kemabukan pada kemudaan akan sepenuhnya ditinggalkan atau berkurang. Adalah demi manfaat ini maka seorang perempuan atau laki-laki, seorang perumah tangga atau seorang yang meninggalkan keduniawian, harus sering kali merefleksikan sebagai berikut: ‘Aku tunduk pada usia tua; aku tidak terbebas dari usia tua.’
(dikutip dari : Tipiṭaka, Suttapiṭaka, Aṅguttaranikāya, Pañcakanipāta, Dutiyapaṇṇāsaka, Nīvaraṇavagga, AN 5.57)
Sādhu...Sādhu...
Demikianlah sabda Sang Bhagavā ; Sammāsaṃbuddha Gotama, mengenai perenungan yang sewajarnya kita umat Buddha laksanakan setiap harinya.
Jarā-dhammomhi, jaraṃ anatīto (Saya tunduk pada penuaan, saya tidak luput dari penuaan).
Perenungan ini sejatinya mengingatkan bahwa tubuh fisik kita ini tidak dapat menghindari penuaan, yang merupakan aspek dari sifat tidak kekal (anicca). sudah menjadi Dhamma dunia ini bahwa tidak ada satupun barang atau kondisi yang kekal, semuanya akan tergerus seiring waktu, itulah kebenaran hakiki dari sifat Anicca itu sendiri.
Di dalam kitab penjelas makna, Manorathapūranī, dikatakan bahwa perenungan terhadap penuaan ini akan membantu untuk memahami ketidakkekalan (anicca) dan melatih ketidakterikatan (viraga).
Kita mengetahui sendiri, bahwa kita terkadang terlalu melekat pada tubuh fisik ini, yang dimana Kemelekatan itu sendiri merupakan sumber penderitaan.
Kita semestinya mengerti hal ini dan berusaha mengurangi wujud Kilesa Lobha ini yang bermanifestasi menjadi rasa suka/kemelekatan pada Tubuh ini.
Maka mari lakukan perenungan ini setiap saat, setiap hari, dan mulailah lakukan kebajikan demi kesejahteraan diri kita sendiri dan semua makhluk hidup.
Semoga Cita-Cita luhur anda tercapai
Semoga semua Makhluk Hidup berbahagia..
Nibbāna paccayaṃ hotu
Ciraṁ tiṭṭhatu saddhammo
Buddhasāsanaṁ ciraṁ Tiṭṭhatu
Sādhu...Sādhu...
Demikianlah sabda Sang Bhagavā ; Sammāsaṃbuddha Gotama, mengenai perenungan yang sewajarnya kita umat Buddha laksanakan setiap harinya.
Jarā-dhammomhi, jaraṃ anatīto (Saya tunduk pada penuaan, saya tidak luput dari penuaan).
Perenungan ini sejatinya mengingatkan bahwa tubuh fisik kita ini tidak dapat menghindari penuaan, yang merupakan aspek dari sifat tidak kekal (anicca). sudah menjadi Dhamma dunia ini bahwa tidak ada satupun barang atau kondisi yang kekal, semuanya akan tergerus seiring waktu, itulah kebenaran hakiki dari sifat Anicca itu sendiri.
Di dalam kitab penjelas makna, Manorathapūranī, dikatakan bahwa perenungan terhadap penuaan ini akan membantu untuk memahami ketidakkekalan (anicca) dan melatih ketidakterikatan (viraga).
Kita mengetahui sendiri, bahwa kita terkadang terlalu melekat pada tubuh fisik ini, yang dimana Kemelekatan itu sendiri merupakan sumber penderitaan.
Kita semestinya mengerti hal ini dan berusaha mengurangi wujud Kilesa Lobha ini yang bermanifestasi menjadi rasa suka/kemelekatan pada Tubuh ini.
Maka mari lakukan perenungan ini setiap saat, setiap hari, dan mulailah lakukan kebajikan demi kesejahteraan diri kita sendiri dan semua makhluk hidup.
Semoga Cita-Cita luhur anda tercapai
Semoga semua Makhluk Hidup berbahagia..
Nibbāna paccayaṃ hotu
Ciraṁ tiṭṭhatu saddhammo
Buddhasāsanaṁ ciraṁ Tiṭṭhatu
Sādhu...Sādhu...
23 Mei 2025
Mettācittena,
Viriyaputta, upāsaka
Mettācittena,
Viriyaputta, upāsaka
