Abhiññā adalah kemampuan batin yang lebih tinggi, yang hanya dapat dimiliki oleh mereka yang berhasil dalam meditasi, bila kehidupan yang lampau maupun saat ini ia sukses dalam meditasi, maka sisa kemampuan itu masih dapat terlihat dalam kehidupan yang sekarang. Pencapaian Abhiññā sangat beragam bagi setiap orang, karena berkaitan dengan obyek meditasi yang digunakannya ketika bermeditasi. Dalam pencapaian kemampuan batin ini, karma pada kehidupan yang lampau sangat kuat pengaruhnya, ada seseorang yang belum lama bermeditasi telah mencapai keadaan ini, tetapi bagi karmanya yang kurang baik, akan sangat kesulitan untuk bermeditasi dan kemampuannya pun sangat terbatas.
Memiliki Abhiññā adalah sangat berguna bagi seseorang untuk memperluas dan memperdalam pandangan kita tentang kehidupan, alam semesta serta dapat menembus "Pengertian" yang selama ini belum dimengerti. Penggunaan Abhiññā ini harus sesuai dengan sila, karena kemampuan ini bisa merosot dan lenyap jika kita melanggar sila.
Ada Enam Macam Abhiññā
1. Kemampuan Batin Fisik (Iddhividha)
Yaitu: seseorang mengarahkan pikirannya pada bentuk iddhi, ia bisa menjadi banyak orang, dari banyak orang kembali menjadi satu lagi, ia berjalan menembus dinding, benteng atau gunung, ia dapat menyelam dan muncul melalui tanah, ia dapat menghilang, berjalan di atas air, dengan duduk bersila ia dapat melayang-layang di angkasa, dengan tangan ia menyentuh matahari, ia juga dapat dengan tubuhnya mengunjungi alam-alam dewa.
Manfaatnya: Dengan kemampuan ini; kita dapat melakukan banyak perbuatan baik untuk menolong orang lain yang letaknya jauh dari keramaian/terpencil, sehingga ketika orang tersebut membutuhkan bantuan kita, dengan segera/secepat itu pula kita sudah berada di sana untuk memberikan pertolongan kepadanya.
2. Mata Dewa (Dibbacakkhu)
Yaitu: kemampuan untuk melihat apa yang bakal terjadi di masa yang akan datang, memungkinkan seseorang untuk melihat benda-benda atau makhluk-makhluk surgawi dan duniawi, jauh atau dekat, yang tak kasat mata. Kemampuan untuk mengetahui tentang kematian dan kelahiran makhluk, mengapa ada makhluk yang terlahir sengsara, menderita, atau makhluk terlahir di alam neraka, terlahir menyenangkan, bahagia atau terlahir di alam surga.
Manfaatnya: Dengan mata dewa kita dapat membantu seseorang untuk melihat kelahiran-kelahiran makhluk-makhluk, mengapa seseorang bernasib seperti ini dan itu, mengapa seseorang berwajah buruk, ganteng, cantik, sehat dsb. Kitapun dapat mengetahui kehidupan seseorang di masa yang akan datang, melacak keberadaan seseorang setelah meninggal dan ke mana ia akan terlahir kembali sesuai dengan karmanya sekarang ini. Kita juga dapat membuktikan sendiri apakah 31 alam kehidupan itu betul atau tidak dsb.
3. Telinga Dewa (Dibbasota)
Yaitu: kemampuan mendengar suara-suara manusia, peta, dewa, yang jauh atau dekat. Manfaatnya: Dengan kemampuan ini; kita dapat mendengar percakapan makhluk-makhluk di sekitar kita ataupun yang jaraknya jauh, sehingga bisa mendapatkan informasi dengan cepat.
4. Membaca Pikiran (Cetopariyāya-ñāṇa)
Yaitu: kemampuan untuk mengetahui pikiran makhluk lain, termasuk pikiran orang lain. Manfaatnya: Dengan kemampuan ini kita dapat membaca/mengetahui pikiran orang lain, sehingga memungkinkan kita dapat memecahkan persoalan orang lain, walaupun orang tersebut tidak mau membuka rahasianya. Demikian pula dengan memiliki kemampuan batin ini, kita tidak dapat ditipu orang lain yang hendak berbuat jahat.
5. Mengingat Kehidupan-Kehidupan Lampau (Pubbenivāsānussati-ñāṇa)
Yaitu: kemampuan untuk mengingat kehidupan yang lampau dari satu kelahiran sampai ribuan kelahiran secara lengkap, tempat, keluarga, nama, suku bangsa, kebahagiaan, penderitaan, batas umur, banyak masa perkembangan dan kehancuran bumi, dsb. Manfaatnya: dengan kemampuan ini kita dapat menjawab banyak masalah yang berkaitan dengan kehidupan masa lampaunya ataupun riwayat hidup para Buddha dan para siswanya. Dengan Abhiññā inipun kebenaran kitab suci dapat diuji.
6. Pelenyapan Kekotoran Batin (Āsavakkhaya-ñāṇa)
Yaitu: kemampuan yang hanya dimiliki oleh seorang Arahat, Pacceka Buddha atau Sammāsambuddha. Kemampuan ini tidak dapat dihasilkan oleh samatha bhāvanā atau dengan mencapai jhāna, kemampuan ini hanya dapat dicapai dengan melaksanakan vipassanā bhāvanā. Manfaatnya: adalah lenyapnya semua kekotoran batin, ia mencapai penerangan agung (bodhi) dalam pengertian sebagai orang suci yang bila meninggal dunia tidak akan terlahir kembali.
Bahayanya
Seseorang yang memiliki Abhiññā sering dikenal sebagai orang sakti. Orang sakti belum tentu suci ia telah mencapai kesucian, dan ada kemungkinan masih mempunyai keinginan untuk memuaskan nafsu-nafsunya, sehingga dapat merugikan orang lain. Orang sakti yang tidak bermoral, kesaktiannya dapat luntur, tetapi kesaktian orang suci tak akan pernah luntur karena orang suci tidak akan melakukan perbuatan yang melanggar sila. Kemampuan-kemampuan batin ini seolah-olah mustahil bagi pikiran manusia modern (1 s/d 5). Tapi perlu diingat bahwa semua kemampuan 1 s/d 5 ini bukanlah merupakan Tujuan dari ajaran Sang Buddha, namun yang terpenting adalah kemampuan no.6, yaitu melenyapkan kekotoran batin secara mutlak atau mencapai Nibbāna.
Sumber: tipitaka, tanhadi, penulis.
