Rahogata Sutta

Sutta Tentang Kesendirian

Ada tiga proses yang terjadi secara bertahap atau bersamaan ketika seseorang berkembang utamanya dalam samatha-bhāvanā: mereda (passaddhi), ditenangkan (vupasama), dan lenyap (nirodha). Berikut adalah rangkuman intisari Dhamma tersebut.

1. Empat Rupa-Jhāna 
Pada tahap awal meditasi, hal-hal fisik dan mental yang kasar mulai berkurang:
Jhāna 1: Ucapan atau kata-kata dalam batin, mereda, ditenangkan, dan lenyap. Batin menjadi hening, tiada lagi batin yang berbicara.
Jhāna 2: Pemikiran dan pemeriksaan, yaitu kemampuan batin untuk mengarahkan (vitakka) dan mempertahankan objek (vicāra), mereda, ditenangkan, dan lenyap.
Jhāna 3: Kebahagiaan yang menggebu-gebu (pīti), mereda, ditenangkan, dan lenyap, berganti menjadi kebahagiaan yang halus, tenang, dan damai (sukha).
Jhāna 4: Napas masuk dan keluar, mereda, ditenangkan, dan lenyap. Tubuh menjadi sangat halus seolah tidak bernapas, menyisakan keseimbangan batin yang murni (upekkhā). Batin menjadi kokoh, menyatu, dan terpusat secara alami (ekaggatā).

2. Empat Arupa-Jhāna 
Setelah melewati batas materi halus, pikiran masuk ke alam kesadaran yang abstrak:
Landasan Ruang Tanpa Batas: Persepsi yang berhubungan dengan landasan bentukan materi halus (rupa-jhāna) menjadi mereda, ditenangkan, dan lenyap.
Landasan Kesadaran Tanpa Batas: Persepsi tentang landasan ruang tanpa batas mereda, ditenangkan, dan lenyap.
Landasan Kekosongan: Persepsi tentang landasan kesadaran tanpa batas mereda, ditenangkan, dan lenyap.
Landasan Bukan Persepsi Pun Bukan Tanpa-Persepsi: Persepsi tentang landasan kekosongan menjadi mereda, ditenangkan, dan lenyap. 

3. Puncak Latihan Ketenangan
Lenyapnya Persepsi dan Perasaan: Persepsi dan perasaan menjadi mereda, ditenangkan, dan lenyap sepenuhnya saat bermeditasi. Ini adalah puncak ketenangan dari latihan meditasi ketenangan (samatha-bhāvanā).
Penghancuran Noda-Noda Batin: Bagi seorang Arahat, yang bervipassanā ditahap akhir, akar dari segala penderitaan yaitu kemelekatan (lobha), kebencian (dosa), dan delusi (moha) menjadi mereda, ditenangkan, dan lenyap secara permanen atau padam total.


Rahogata Sutta (SN 36.11)

Seorang bhikkhu mendatangi Sang Bhagavā, memberi hormat kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan berkata kepada Beliau: “Di sini, Yang Mulia, ketika aku sedang sendirian dalam keterasingan, suatu perenungan muncul dalam pikiranku sebagai berikut: ‘Tiga perasaan telah dijelaskan oleh Sang Bhagavā: perasaan menyenangkan, perasaan menyakitkan, perasaan bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan. Tiga perasaan ini telah dijelaskan oleh Sang Bhagavā. Tetapi Sang Bhagavā telah mengatakan: “Apa pun yang dirasakan termasuk dalam penderitaan.” Sekarang sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan oleh Bhagavā?’”
“Bagus, bagus, bhikkhu! Tiga perasaan telah dijelaskan olehKu: perasaan menyenangkan, perasaan menyakitkan, perasaan bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan. Tiga perasaan ini telah dijelaskan olehKu. Tetapi Aku juga telah mengatakan: ‘Apa pun yang dirasakan termasuk dalam penderitaan.’ Ini Kunyatakan dengan merujuk pada ketidak-kekalan bentukan-bentukan. Ini Kunyatakan dengan merujuk pada bentukan-bentukan yang tunduk pada kehancuran … bentukan-bentukan yang tunduk pada kelenyapan … bentukan-bentukan yang tunduk pada peluruhan … bentukan-bentukan yang tunduk pada penghentian … bentukan-bentukan yang tunduk pada perubahan.
“Kemudian, bhikkhu, Aku juga mengajarkan lenyapnya bentukan-bentukan berturut-turut. Bagi seorang yang telah mencapai jhāna pertama, ucapan lenyap. Bagi seorang yang telah mencapai jhāna ke dua, pemikiran dan pemeriksaan lenyap. Bagi seorang yang telah mencapai jhāna ke tiga, sukacita lenyap. Bagi seorang yang telah mencapai jhāna ke empat, napas-masuk dan napas-keluar lenyap. Bagi seorang yang telah mencapai landasan ruang tanpa batas, persepsi yang berhubungan dengan landasan berbentuk lenyap. Bagi seorang yang telah mencapai landasan kesadaran tanpa batas, persepsi yang berhubungan dengan landasan ruang tanpa batas lenyap. Bagi seorang yang telah mencapai landasan kekosongan, persepsi yang berhubungan dengan landasan kesadaran tanpa batas lenyap. Bagi seorang yang telah mencapai landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, persepsi yang berhubungan dengan landasan kekosongan lenyap. Bagi seorang yang telah mencapai lenyapnya persepsi dan perasaan, persepsi dan perasaan lenyap. Bagi seorang bhikkhu yang noda-nodanya telah dihancurkan, nafsu lenyap, kebencian lenyap, delusi lenyap.
“Kemudian, bhikkhu, Aku juga mengajarkan meredanya bentukan-bentukan berturut-turut. Bagi seorang yang telah mencapai jhāna pertama, ucapan mereda … Bagi seorang yang telah mencapai lenyapnya persepsi dan perasaan, persepsi dan perasaan mereda. Bagi seorang bhikkhu yang noda-nodanya telah dihancurkan, nafsu mereda, kebencian mereda, delusi mereda.
“Terdapat, bhikkhu enam jenis penenangan. Bagi seorang yang telah mencapai jhāna pertama, ucapan ditenangkan. Bagi seorang yang telah mencapai jhāna ke dua, pemikiran dan pemeriksaan ditenangkan. Bagi seorang yang telah mencapai jhāna ke tiga, sukacita ditenangkan. Bagi seorang yang telah mencapai jhāna ke empat, napas-masuk dan napas-keluar ditenangkan. Bagi seorang yang telah mencapai lenyapnya persepsi dan perasaan, persepsi dan perasaan ditenangkan. Bagi seorang bhikkhu yang noda-nodanya telah dihancurkan, nafsu ditenangkan, kebencian ditenangkan, delusi ditenangkan.”

Sumber: suttacentral, penulis, gemini-3.