Sutta Tentang Pengembangan Indria-Indria
Intisari dalam Indriyabhāvanā Sutta (MN 152). Bagi seorang yang masih berlatih, kemunculan rasa suka atau tidak suka dianggap sebagai hal yang kasar. Ada lima jenis latihan persepsi sesuai dengan kalimat instruksi Sang Buddha untuk masing-masing proses tersebut:
1. Paṭikūle appaṭikūlasaññī vihareyyan’ti, appaṭikūlasaññī tattha viharati
"Semoga aku berdiam dengan persepsi tidak menjijikkan terhadap apa yang menjijikkan," dan ia berdiam dengan persepsi tidak menjijikkan di sana.
Arti: Melatih batin agar tidak memunculkan kebencian/penolakan terhadap objek yang kasar/kotor/buruk.
2. Appaṭikūle paṭikūlasaññī vihareyyan’ti, paṭikūlasaññī tattha viharati
"Semoga aku berdiam dengan persepsi menjijikkan terhadap apa yang tidak menjijikkan," dan ia berdiam dengan persepsi menjijikkan di sana.
Arti: Melatih batin agar memunculkan rasa muak (nibbida), sehingga tidak memunculkan nafsu kemelekatan terhadap objek yang baik/indah/menyenangkan.
3. Paṭikūle ca appaṭikūle ca appaṭikūlasaññī vihareyyan’ti, appaṭikūlasaññī tattha viharati
"Semoga aku berdiam dengan persepsi tidak menjijikkan terhadap apa yang menjijikkan dan yang tidak menjijikkan," dan ia berdiam dengan persepsi tidak menjijikkan di sana.
Arti: Memandang situasi/objek campuran dengan batin yang bebas dari kebencian/penolakan.
4. Appaṭikūle ca paṭikūle ca paṭikūlasaññī vihareyyan’ti, paṭikūlasaññī tattha viharati
"Semoga aku berdiam dengan persepsi menjijikkan terhadap apa yang tidak menjijikkan dan yang menjijikkan," dan ia berdiam dengan persepsi menjijikkan di sana.
Arti: Memandang situasi/objek campuran dengan kewaspadaan dan memunculkan rasa muak (nibbida), agar tidak memunculkan nafsu kemelekatan terhadap objek yang campuran tersebut.
5. Paṭikūlañca appaṭikūlañca tadubhayaṁ abhinivajjetvā upekkhako vihareyyaṁ sato sampajāno’ti, upekkhako tattha viharati sato sampajāno
"Semoga aku berdiam dengan menghindari kedua-duanya—baik yang menjijikkan maupun yang tidak menjijikkan—dan berdiam dalam keseimbangan batin, penuh perhatian, dan waspada," dan ia berdiam dalam keseimbangan batin di sana, penuh perhatian dan waspada.
Arti: Puncak latihan dengan melampaui dualitas rasa suka/benci dan menetap dalam keseimbangan batin yang murni (sankharupekkhā).
Catatan Teks: Frasa di atas adalah formula meditasi (ariya-iddhi atau kekuatan para mulia) yang diterapkan sama rata ketika seorang bhikkhu menggunakan keenam inderanya (cakkhunā, sotena, ghānena, jivhāya, kāyena, manasā) saat berhadapan dengan objek yang disukai (manāpa), tidak disukai (amanāpa), ataupun campuran keduanya (manāpāmanāpa).
Kutipan Untuk Memasuki Latihan Ini
Satu kutipan dari sutta ini yang menjadi fondasi untuk kewaspadaan batin, bagi orang yang masih berlatih dibabarkan Sang Buddha sebagai berikut ini:
“Dan bagaimanakah, Ānanda, seseorang adalah seorang siswa dalam latihan yang lebih tinggi, seorang yang telah memasuki sang jalan? Di sini, Ānanda, ketika seorang bhikkhu melihat suatu bentuk dengan mata … mendengar suatu suara dengan telinga … mencium suatu bau dengan hidung … mengecap suatu rasa kecapan dengan lidah … menyentuh suatu objek sentuhan dengan badan … mengenali suatu objek pikiran dengan pikiran, di sana muncul dalam dirinya apa yang menyenangkan, di sana muncul apa yang tidak menyenangkan, di sana muncul apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan; ia muak, malu, dan jijik dengan apa yang menyenangkan yang muncul, dengan apa yang tidak menyenangkan yang muncul, dan dengan apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan yang muncul. Itu adalah bagaimana seseorang adalah seorang siswa dalam latihan yang lebih tinggi, seorang yang telah memasuki sang jalan.”
Hasil Bagi Pelatihan Yang Matang
Dengan latihan tersebut yang sudah matang bagi para pelatih diri, perhatian penuh (sati) mereka mampu menghentikan dan mengembalikan batin ke kondisi seimbang (upekkhā) dalam hitungan waktu yang sangat cepat. Berikut adalah perumpamaan tentang kecepatan masing-masing indera:
1. Melihat Objek Mata - Kedipan Mata
Ketika melihat objek yang memicu suka/tidak suka, seseorang melenyapkannya sekilas dan secepat seseorang mengedipkan matanya.
2. Mendengar Suara - Jentikan Jari
Ketika mendengar suara, reaksi batiniahnya pada rasa suka/tidak suka lenyap secepat dan semudah seseorang menjentikkan jarinya.
3. Mencium Bau - Tetesan Air di Daun
Ketika mencium bau, rasa suka/tidak suka itu sirna secepat tetesan air yang langsung menggelinding jatuh dan tidak melekat pada daun teratai yang miring.
4. Mengecap Rasa - Ludah yang Dibuang
Ketika mengecap rasa makanan, gejolak batinnya lenyap secepat dan semudah seseorang meludahi air ludah yang sudah diujung tanduk untuk dikeluarkan.
5. Sensasi Fisik - Menekuk atau Meluruskan Lengan
Ketika merasakan sensasi fisik, reaksi batinnya hilang secepat seseorang menekuk lengan yang lurus, atau meluruskan lengan yang ditekuk.
6. Memikirkan Objek Pikiran - Tetesan Air di Wajan Besi Panas
Ketika pikiran memikirkan sesuatu, emosi yang muncul langsung lenyap secepat setetes air yang jatuh ke atas wajan besi yang sangat panas, langsung mendesis dan menguap seketika.
Indriyabhāvanā Sutta (MN 152)
Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Kajangalā di hutan pepohonan mukhelu. Kemudian murid brahmana Uttara, siswa dari Brahmana Pārāsariya, mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan Beliau. Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu sisi. Kemudian Sang Bhagavā bertanya kepadanya: “Uttara, apakah Brahmana Pārāsariya mengajarkan pengembangan indria-indria kepada para siswanya?”
“Benar, Guru Gotama.”
“Tetapi, Utara, bagaimanakah ia mengajarkan pengembangan indria-indria kepada para siswanya?”
“Di sini, Guru Gotama, seseorang tidak melihat bentuk-bentuk dengan mata, ia tidak mendengar suara-suara dengan telinga. Demikianlah Brahmana Pārāsariya mengajarkan pengembangan indria-indria kepada para siswanya.”
“Kalau begitu, Uttara, maka orang buta dan orang tuli memiliki indria-indria terkembang, menurut apa yang dikatakan oleh Brahmana Pārāsariya. Karena orang buta tidak melihat bentuk-bentuk dengan mata, dan orang tuli tidak mendengar suara-suara dengan telinga.”
Ketika hal ini dikatakan, murid brahmana Uttara, siswa Pārāsariya, duduk diam, cemas, dengan bahu terkulai dan kepala menunduk, muram, dan tidak menjawab.
Kemudian, mengetahui hal ini, Sang Bhagavā berkata kepada Yang Mulia Ānanda: “Ānanda, Brahmana Pārāsariya mengajarkan pengembangan indria-indria kepada para siswanya dalam satu cara, tetapi dalam Disiplin Yang Mulia pengembangan indria-indria yang tertinggi adalah bukan seperti itu.”
“Sekarang adalah waktunya, Sang Bhagavā, sekarang adalah waktunya, Yang Sempurna, bagi Sang Bhagavā untuk mengajarkan Dhamma. Setelah mendengarnya dari Sang Bhagavā, para bhikkhu akan mengingatnya.”
“Maka dengarkanlah, Ānanda, dan perhatikanlah pada apa yang akan Kukatakan.”
“Baik, Yang Mulia,” ia menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:
“Sekarang, Ānanda, bagaimanakah pengembangan indria-indria yang tertinggi dalam Disiplin Yang Mulia? Di sini, Ānanda, ketika seorang bhikkhu melihat suatu bentuk dengan mata, di sana muncul dalam dirinya apa yang menyenangkan, di sana muncul apa yang tidak menyenangkan, di sana muncul apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Ia memahami sebagai berikut: ‘Di sana telah muncul padaku apa yang menyenangkan, di sana muncul apa yang tidak menyenangkan, di sana muncul apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Tetapi hal itu adalah terkondisi, kasar, muncul bergantungan; ini adalah damai, ini adalah luhur, yaitu, keseimbangan.’ Apa yang menyenangkan, apa yang tidak menyenangkan, dan apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan yang muncul menjadi lenyap dalam dirinya dan keseimbangan ditegakkan. Seperti halnya seseorang yang berpenglihatan baik, setelah membuka matanya seketika menutupnya kembali atau setelah menutup matanya seketika membukanya kembali, demikian pula sehubungan dengan segala sesuatu, apa yang menyenangkan, apa yang tidak menyenangkan, dan apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan yang muncul menjadi lenyap dengan cepat dan mudah, dan keseimbangan ditegakkan. Ini disebut pengembangan indria-indria yang tertinggi dalam Disiplin Yang Mulia sehubungan dengan bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata.
“Kemudian, Ānanda, ketika seorang bhikkhu mendengar suatu suara dengan telinga, di sana muncul dalam dirinya apa yang menyenangkan, di sana muncul apa yang tidak menyenangkan, di sana muncul apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Ia memahami sebagai berikut … dan keseimbangan ditegakkan. Seperti halnya seorang kuat dapat dengan mudah menjentikkan jarinya, demikian pula sehubungan dengan segala sesuatu, apa yang menyenangkan, apa yang tidak menyenangkan, dan apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan yang muncul menjadi lenyap dengan cepat dan mudah, dan keseimbangan ditegakkan. Ini disebut pengembangan indria-indria yang tertinggi dalam Disiplin Yang Mulia sehubungan dengan suara-suara yang dikenali oleh telinga.
“Kemudian, Ānanda, ketika seorang bhikkhu mencium suatu bau dengan hidung, di sana muncul dalam dirinya apa yang menyenangkan, di sana muncul apa yang tidak menyenangkan, di sana muncul apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Ia memahami sebagai berikut … dan keseimbangan ditegakkan. Seperti halnya tetesan air hujan di atas daun teratai yang miring akan bergulir turun dan tidak berdiam di sana, demikian pula sehubungan dengan segala sesuatu, apa yang menyenangkan, apa yang tidak menyenangkan, dan apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan yang muncul menjadi lenyap dengan cepat dan mudah, dan keseimbangan ditegakkan. Ini disebut pengembangan indria-indria yang tertinggi dalam Disiplin Yang Mulia sehubungan dengan bau-bauan yang dikenali oleh hidung.
“Kemudian, Ānanda, ketika seorang bhikkhu mengecap suatu rasa kecapan dengan lidah, di sana muncul dalam dirinya apa yang menyenangkan, di sana muncul apa yang tidak menyenangkan, di sana muncul apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Ia memahami sebagai berikut … dan keseimbangan ditegakkan. Seperti halnya seorang kuat dapat dengan mudah meludahkan gumpalan ludah yang terkumpul di ujung lidahnya, demikian pula sehubungan dengan segala sesuatu, apa yang menyenangkan, apa yang tidak menyenangkan, dan apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan yang muncul menjadi lenyap dengan cepat dan mudah, dan keseimbangan ditegakkan. Ini disebut pengembangan indria-indria yang tertinggi dalam Disiplin Yang Mulia sehubungan dengan rasa kecapan yang dikenali oleh lidah.
“Kemudian, Ānanda, ketika seorang bhikkhu menyentuh suatu objek sentuhan dengan badan, di sana muncul dalam dirinya apa yang menyenangkan, di sana muncul apa yang tidak menyenangkan, di sana muncul apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Ia memahami sebagai berikut … dan keseimbangan ditegakkan. Seperti halnya seorang kuat dapat dengan mudah merentangkan lengannya yang tertekuk atau menekuk lengannya yang terentang, demikian pula sehubungan dengan segala sesuatu, apa yang menyenangkan, apa yang tidak menyenangkan, dan apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan yang muncul menjadi lenyap dengan cepat dan mudah, dan keseimbangan ditegakkan. Ini disebut pengembangan indria-indria yang tertinggi dalam Disiplin Yang Mulia sehubungan dengan objek-objek sentuhan yang dikenali oleh badan.
“Kemudian, Ānanda, ketika seorang bhikkhu mengenali suatu objek pikiran dengan pikiran, di sana muncul dalam dirinya apa yang menyenangkan, di sana muncul apa yang tidak menyenangkan, di sana muncul apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Ia memahami sebagai berikut … dan keseimbangan ditegakkan. Seperti halnya seseorang menjatuhkan setetes atau dua tetes air ke atas sebuah piringan besi yang telah dipanaskan sepanjang hari, jatuhnya tetesan air mungkin lambat tetapi air itu akan dengan cepat menguap dan lenyap, demikian pula sehubungan dengan segala sesuatu, apa yang menyenangkan, apa yang tidak menyenangkan, dan apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan yang muncul menjadi lenyap dengan cepat dan mudah, dan keseimbangan ditegakkan. Ini disebut pengembangan indria-indria yang tertinggi dalam Disiplin Yang Mulia sehubungan dengan objek-objek pikiran yang dikenali oleh pikiran.
“Itu adalah bagaimana pengembangan indria-indria yang tertinggi dalam Disiplin Yang Mulia.
“Dan bagaimanakah, Ānanda, seseorang adalah seorang siswa dalam latihan yang lebih tinggi, seorang yang telah memasuki sang jalan? Di sini, Ānanda, ketika seorang bhikkhu melihat suatu bentuk dengan mata … mendengar suatu suara dengan telinga … mencium suatu bau dengan hidung … mengecap suatu rasa kecapan dengan lidah … menyentuh suatu objek sentuhan dengan badan … mengenali suatu objek pikiran dengan pikiran, di sana muncul dalam dirinya apa yang menyenangkan, di sana muncul apa yang tidak menyenangkan, di sana muncul apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan; ia muak, malu, dan jijik dengan apa yang menyenangkan yang muncul, dengan apa yang tidak menyenangkan yang muncul, dan dengan apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan yang muncul. Itu adalah bagaimana seseorang adalah seorang siswa dalam latihan yang lebih tinggi, seorang yang telah memasuki sang jalan
“Dan bagaimanakah, Ānanda, seseorang adalah seorang mulia dengan indria-indria terkembang? Di sini, Ānanda, ketika seorang bhikkhu melihat suatu bentuk dengan mata … mendengar suatu suara dengan telinga … mencium suatu bau dengan hidung … mengecap suatu rasa kecapan dengan lidah … menyentuh suatu objek sentuhan dengan badan … mengenali suatu objek pikiran dengan pikiran, di sana muncul dalam dirinya apa yang menyenangkan, di sana muncul apa yang tidak menyenangkan, di sana muncul apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Jika ia berkehendak: ‘Semoga aku berdiam dengan mempersepsikan ketidak-jijikan dalam kejijikan,’ maka ia berdiam dengan mempersepsikan ketidak-jijikan dalam kejijikan. Jika ia berkehendak: ‘Semoga aku berdiam dengan mempersepsikan kejijikan dalam ketidak-jijikan,’ maka ia berdiam dengan mempersepsikan kejijikan dalam ketidak-jijikan. Jika ia berkehendak: ‘Semoga aku berdiam dengan mempersepsikan ketidak-jijikan dalam kejijikan dan ketidak-jijikan,’ maka ia berdiam dengan mempersepsikan ketidak-jijikan dalam hal itu. Jika ia berkehendak: ‘Semoga aku berdiam dengan mempersepsikan kejijikan dalam ketidak-jijikan dan kejijikan,’ maka ia berdiam dengan mempersepsikan kejijikan dalam hal itu. Jika ia berkehendak: ‘Semoga aku, dengan menghindari kejijikan dan ketidak-jijikan, berdiam dalam keseimbangan, penuh perhatian dan penuh kewaspadaan,’ maka ia berdiam dalam keseimbangan, penuh perhatian dan penuh kewaspadaan. Itu adalah bagaimana seseorang adalah seorang mulia dengan indria-indria terkembang.
“Demikianlah, Ānanda, pengembangan indria-indria yang tertinggi dalam Disiplin Yang Mulia telah diajarkan olehKu, siswa dalam latihan yang lebih tinggi yang telah memasuki sang jalan telah diajarkan olehKu, dan seorang mulia dengan indria-indria terkembang telah diajarkan olehKu.
“Apa yang harus dilakukan untuk para siswaNya demi belas kasih seorang guru yang mengusahakan kesejahteraan mereka dan memiliki belas kasih pada mereka, telah Aku lakukan untukmu, Ānanda. Ada bawah pohon ini, gubuk kosong ini. Bermeditasilah, Ānanda, jangan menunda atau engkau akan menyesalinya kelak. Ini adalah instruksi kami kepadamu.”
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Yang Mulia Ānanda merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
Sumber: suttacentral, penulis, gemini-3