Istilah Cha Satthārō Titthiyā atau Enam Guru Aliran Luar, berasal dari kisah sejarah dalam Tipiṭaka, khususnya yang sering muncul dalam Sāmaññaphalasutta (DN 2). Dalam sutta tersebut, diceritakan bahwa Raja Ajātasattu mengunjungi Buddha dan menanyakan tentang manfaat kehidupan sebagai petapa, setelah sebelumnya ia mendatangi keenam guru ini namun merasa tidak puas dengan jawaban mereka.
1. Pūraṇa Kassapa
Pandangan: Akiriyavāda (Amoralisme).
Mengajarkan bahwa tidak ada pahala atau dosa dari perbuatan baik maupun buruk.
2. Makkhali Gosāla
Pandangan: Niyativāda (Fatalisme).
Mengajarkan bahwa semua makhluk tidak memiliki kehendak bebas; kebahagiaan dan penderitaan telah ditentukan oleh takdir semata (aliran Ājīvika).
3. Ajita Kesakambalī
Pandangan: Ucchedavāda (Materialisme).
Mengajarkan bahwa manusia terbentuk dari empat unsur dan akan musnah setelah kematian, tidak ada kehidupan selanjutnya.
4. Pakudha Kaccāyana
Pandangan: Sassatavāda (Eternialisme).
Mengajarkan bahwa terdapat tujuh unsur kekal yang tidak berubah dan tidak dapat diciptakan/dihancurkan (tanah, air, api, udara, kesenangan, penderitaan, dan jiwa).
5. Sañjaya Belaṭṭhaputta
Pandangan: Amarāvikkhepa (Agnostisisme).
Menolak memberikan jawaban pasti atau mutlak, seperti belut yang mengelak, berputar-putar, mengenai pertanyaan metafisika atau moral.
6. Nigaṇṭha Nātaputta
Pandangan: Kriyāvāda (Asketisme Ekstrem)
Mengajarkan asketisme ekstrem dan pembebasan jiwa dari ikatan materi dan karma melalui penyucian diri. Terkenal sebagai pendiri aliran Jainisme.
Secara ringkas, Buddha menganggap mereka "menyimpang" atau “sesat” bukan karena kebencian, melainkan karena pandangan mereka dianggap sebagai micchā diṭṭhi (pandangan salah) yang dapat menyesatkan pengikutnya untuk tetap terjebak dalam siklus kelahiran kembali (saṃsāra) alih-alih memberikan jalan untuk memutus akar penderitaan.
Titthāyatana Sutta (AN 3.61)
Dalam sutta ini, Buddha mengkritik kelima pandangan ini karena mereka mengabaikan tanggung jawab moral individu. Dengan meyakini bahwa segala sesuatu terjadi secara kebetulan, karena takdir, atau karena campur tangan pihak luar, seseorang akan kehilangan dorongan untuk melakukan upaya sadar dalam mempraktikkan Dhamma.
Ahetukavāda (Pandangan Tanpa Penyebab): Pandangan yang menyatakan bahwa tidak ada penyebab atau kondisi bagi timbulnya kotoran batin atau kesucian makhluk; semua terjadi tanpa alasan.
Issaranimmāṇahetuvāda (Pandangan Pencipta Mahatinggi): Pandangan yang percaya bahwa kebahagiaan dan penderitaan makhluk adalah akibat dari kehendak makhluk mahatinggi atau Tuhan pencipta (Issara).
Pubbekatavāda (Pandangan Takdir Masa Lalu): Pandangan yang percaya bahwa segala pengalaman hidup saat ini adalah semata-mata akibat dari perbuatan (kamma) yang dilakukan di masa lalu, tanpa adanya faktor pendukung saat ini.
Ucchedavāda (Pandangan Pemusnahan): Pandangan yang meyakini bahwa makhluk terbentuk dari unsur materi yang akan musnah sepenuhnya setelah kematian, sehingga tidak ada kehidupan selanjutnya.
Khattavijjavāda (Pandangan Fatalistik): Pandangan yang menekankan bahwa perbuatan adalah sia-sia karena hasil telah ditentukan oleh kekuatan atau nasib tertentu, sering dikaitkan dengan pandangan fatalisme ekstrem.
Sumber: tipitaka, penulis, gemini-3
