Hukum ini tidak menjelaskan mengenai asal mula alam semesta. Tetapi dalam hukum ini kita dapat mempelajari mengenai hukum sebab musabab yang saling bergantungan, empat kesunyataan mulia dengan jalan Beruas Delapan.
Untuk mempermudah pemahaman menganai hukum ini. Kita akan melihat dari gambar Roda Samsara atau roda kehidupan. Lukisan gambar ini bermula dari kisah dua kerajaan yang satu sama lain memiliki hasil kekayaan alam yang berbeda. Raja Bimbisara terkenal dengan hasil alam berupa tekstil sedangkan Raja Udrayana terkenal dengan kekayaan batu mulia, berupa emas, berlian dan permata.
Suatu hari Raja Bimbisara menerima hadiah dari Raja Udrayana berupa pakaian perang bertahta emas dan permata. Apabila batu mulia tersebut ditaksir harganya, maka akan sulit untuk mencari benda yang seimbang dengan harga dan bagusnya hadiah tersebut. Hal ini pun dialami oleh Raja Bimbisara. Saat Beliau membuka hadiahnya, raja sangat terpesona dan terkejut. Mengapa?” Karena benda yang diberikannya merupakan benda yang sangat bernilai. Sementara itu hadiah yang diberikan tentu perlu untuk dibalas dengan hadiah yang lebih tinggi minimal setara dengan apa yang dia terima.
Raja pun memanggil para penasehat untuk diajak bicara mengenai hadiah apa yang akan diberikan kepada raja Udrayana. Para penasehat yang hadir mengalami kesulitan. Akhirnya salah seorang dari mereka mengusulkan untuk bertanya kepada Buddha permasalahan yang terjadi dan apa hadiah yang paling bermanfaat untuk diberikan?”
Pada saat Raja Bimbisara menghadap dan menjelaskan kepada Buddha, Buddha yang maha cinta kasih dan kasih sayang memberikan petunjuk untuk diluangkan dalam lukisan yang kita kenal sebagai ‘Roda Samsara’.
Gambar dari Roda samsara tampak mengerikan. Tetapi, janganlah kita terjebak dari penampilan luarnya. Apabila kita mampu mempelajari dengan teliti. Gambar ini memuat ajaran yang sangat berharga dan dapat mendorong kita memiliki jalan Dharma. Memotivasi kita untuk selalu berusaha merealisasikan kebenaran menuju Pencerahan.
Penjelasan
Gambar yang tersaji tersebut terdiri dari beberapa bagian dan lingkaran, yaitu :
1. Lingkaran pertama yang tampak dalam lukisan ada tiga ekor jenis hewan
2. Lingkaran kedua tampak ada sebagian hitam dan ada sebagian putih
3. Lingkaran ketiga tampak ada lima belahan alam
4. Lingkaran keempat terdapat dua belas mata rantai yang saling berhubungan.
Lingkaran Pertama

Lingkaran Dalam yang tampak ada tiga ekor hewan. Hewan-hewan tersebut memiliki arti yang sangat dalam. Hewan tersebut terdiri dari babi, burung petengger dan ular.
Tentu kita semua telah mengetahui 3 (tiga) jenis hewan tersebut. Lukisan babi melambangkan kebodohan. Apabila kita cermati babi hidupnya hanya diisi makan siang dan malam. Lukisan burung melambangkan keserakahan. Seperti burung yang tidak pernah menyerah untuk selalu menguasai kelompoknya dan tidak mau berbagi dengan kelompok lainnya. Pada saat ada kelompok lain yang masuk ia akan mengusirnya jauh-jauh. Sementara gambar ular melambangkan sifat kebencian, seperti ualr yang setiap saat mendesis.
Lingkaran Kedua
Lukisan setengah lingkaran hitam dan dan setengah lingkaran putih melambangkan perbuatan semasa hidup yang dilakukan baik melalui latihan moralitas atau hal-hal yang tidak bermoral.
Setengah lingkaran putih menunjukkan perbuatan baik seperti dana, sila, meditasi, yang dilakukan perumah tangga ataupun para bhikkhu. Sementara setengah gambar lingkaran hitam perbuatan buruk yang dilakukan seperti pembunuhan, pencurian, asusila.
Dengan berbagai jenis perbuatan karma baik ataupun buruk yang dilakukan maka pada lingkaran berikutnya akan dijelaskan secara umum mengenai tujuan alam-alam yang akan dituju dari hasil perbuatan baik ataupun buruk tersebut.
Lingkaran Ketiga
Dalam lingkaran tersebut kita dapat melihat ada lima belahan. Masing-masing belahan menunjukan alam kehidupan, yang terdiri atas : alam neraka, alam peta, alam hewan, alam manusia, dan alam dewa.
Alam Neraka
Makhluk-makhluk yang menghuni di alam ini mengalami penderitaan yang luar biasa. Kondisi panas dan dingin yang menusuk. Membuat makhluk-makhluk yang menghuni mengalami penderitaan. Kondisi yang begitu menderita, mereka tidak mampu untuk menahannya. Sehingga mereka berteriak, menangis tiada henti-hentinya. Semua kondisi serba menderita.
Alam Peta
Makhluk yang menghuni di alam tersebut mengalami kelaparan dan kehausan yang luar biasa. Ukuran perut yang demikian besar, sementara mulut sebesar jarum. Membuat mereka sangat menderita. Makanan dan minuman tidak kunjung tiba. Bukan hanya satu, dua hari tetapi dapat bertahun-tahun. Mereka betul-betul menderita. Sementara apabila ada makanan ada, saat mereka akan memakannya. Makanan ini berubah menjadi kotoran.
Alam Hewan
Makhluk-makhluk yang terlahir di alam hewan. Mereka memiliki kebodohan dan rasa takut yang luar biasa. Meskipun ada beberapa hewan yang dapat dilatih, tetapi mereka tidak dapat mengembangkan pikirannya. Setiap saat hewan mengalami rasa takut dan gelisah. Takut dibunuh, disakiti oleh makhluk-makhluk lain. Karena setiap saat hidupnya terancam.
Alam Manusia
Makhluk-makhluk yang terlahir di alam manusia mengalami penderitaan dan kebahagiaan. Dalam alam manusia memungkinkan seseorang mencapai pencerahan. Karena kondisi mendukung untuk latihan pengembangan diri. Kelahiran di alam manusia merupakan suatu berkah yang sangat berharga. Namun kita jarang menyadari kesempatan kehidupan kita sangat langka. Sehingga ada orang yang menyia-nyiakan kehiduapan tanpa mempersiapkan pondasi karma untuk kehidupan mendatang. Sebagian masih lelap. Hidup tanpa tujuan yang pasti. Pada saat menuju kematian mereka mulai gelisah dan takut. Oleh karena kelahiran di alam manusia sangatlah berharga, dharma dapat kita pelajari, pahami dan realisasi.
Alam Dewa
Makhluk-makhluk yang terlahir di alam dewa mereka hidup penuh dengan kebahagiaan. Sepanjang waktu mereka bahagia. Namun kebagiaan ini tidaklah kekal, sesuai dengan karma yang dimiliki mereka akan terlahir kembali di alam lain. Dalam alam dewa makhluk-makhluk yang menghuni di alam tersebut sangat sulit memahami Dharma. Mereka cenderung asik dengan kebahagiaan yang dialaminya. Sehingga dharma yang penuh kebebasan tidak mampu untuk menyentuh batin mereka bahkan menyadari terhadap realita kehidupan. Alam dewa pun mengalami rasa iri berupa pembandingan melihat keagungan dewa yang lebih baik berkahnya, dewa kuat cenderung menekan dewa lemah, bertempur dengan asura dan keinginan lainnya.
Lingkaran Keempat

Inilah inti dari Paṭiccasamuppāda. Dua belas kondisi yang muncul karena sebab dan akibat. Ajaran Paṭiccasamuppāda utamanya bersumber dari kitab Nidāna-vagga (SN 12). Di bagian inilah Sang Buddha menguraikan mata rantai sebab-akibat secara sangat rinci dari berbagai sudut pandang.
Rantai Pertama
Ketidaktahuan atau Delusi (Avijjā)
Tampak gambar orang tua yang memegang tongkat dan mencoba untuk berjalan. Dalam melakukan aktivitasnya, orang tua ini berjalan terkadang tanpa hambatan, pada kesempatan lain jatuh menabrak batu atau lubang yang ada di sekitarnya.
Gambar ini melambangkan kegelapan batin atau kebodohan. Sikap yang tidak dapat membedakan antara kebenaran dan kesalahan. “Kebodohan merupakan khayalan yang paling dalam, yang mana membuat kita berkelana selama ini di dalam Samsara”
Kegelapan batin atau kebodohan ini tidak dapat membedakan sifat alami dari apa yang tertampak maupun tidak tertampak. Seperti orang yang membedakan antara teman dan musuh. Orang akan memperlakukan teman dengan baik. Mereka akan menyabutnya dengan terhormat, penuh kehangatan dan kegembiraan. Sementara terhadap musuh, mereka akan memperlakukan berbeda sekali. Mulai dari sikap bicara, cara tatapan maupun perlakuan kepada musuh tersebut. Pada saat ada pertanyaan pada kita, ”Apakah kita memiliki teman?” Apakah kita memiliki musuh?” Orang-orang akan menjawab dengan spontan, ”Ya. Tetapi pada saat pertanyaan lain timbul. Apakah orang yang kita anggap sebagai teman akan menjadi teman sejati selamanya? Begitu pula dengan orang yang kita anggap sebagai musuh, apakah suatu hari dia dapat menjadi teman?”
Saat pertanyaan tersebut diutarakan, kita mulai ragu terhadap kata teman dan musuh. Mengapa hal tersebut dapat terjadi?” Karena cara pandang kita masih diliputi oleh kegelapan batin yang masih tidak dapat membedakan sifat alami benda.
Kita belum dapat memahami bahwa setiap orang memiliki benih-benih kebuddhaan. Setiap orang memiliki kesempatan menjadi orang suci. Ketika orang tersebut melakukan perbuatan negatif. Mereka masih belum dapat membangkitkan kebuddhaan yang ada dalam dirinya. Sehingga mereka melakukan perbuatan negatif tersebut. Benih kebuddhaan setiap makhluk adalah sama. Perbedaan terletak pada latihan dan kesungguhan dan tekad mengembangkan sifat tersebut.
Kalau kita telah dapat memahaminya tentu kita tidak terjebak kepada konsep dualisme berpikir. Seperti baik-buruk, kaya-miskin, terhormat-tersisih, dan rupawan-jelek. Kita akan melihat segala yang tertampak apa adanya tanpa ada yang ditutupi. Inilah sifat dasar alami makhluk. Karena tidak mengerti sifat tersebut maka timbulah beraneka raga perbuatan yang tercakup dalam rantai kedua.
Rantai Kedua
Bentuk-Bentuk Karma (Saṅkhāra)
Tampak ada seorang Bapak yang sedang membuat pot dari tanah liat. Pot buatannya beraneka ragam bentuknya. Pot-pot tersebut ada yang bagus, dan ada pula yang jelek.
Ukurannya ada yang besar, ada pula yang kecil. Ada yang masih dalam proses, ada yang sudah siap dipindahkan. Gambar ini menjelaskan karena delusi ketidaktahuan. Orang banyak melakukan beraneka ragam perbuatan. Ada perbuatan baik, ada pula perbuatan jahat.
Perbuatan baik ada, banyak memberikan faedah, ada pula yang tidak. Perbuatan baik ada yang nilainya besar, ada yang biasa-biasa saja. Tetapi semua itu terus kita lakukan. Pada saat kita tidak memahami kebenaran. Pada saat tersebut kita tidak ragu-ragu melakukan perbuatan jahat. Membawa kerugian bahkan membahayakan kehidupan makhluk yang ada di sekitar maupun dimana mereka berada. Perbuatan yang dilakukan tersebut memiliki potensi untuk berbuah. Karena demikian besar perbuatan tersebut, maka menjadi potensi untuk terlahir kembali. Dengan demikian maka timbullah kesadaran menyambung.
Rantai Ketiga
Kesadaran (Viññāṇa)
Tampak gambar seekor monyet yang bergelantungan naik dan turun dari satu dahan ke dahan yang lainnya. dengan memegang Kristal yang melukiskan Pikiran Resah yang senantiasa melompat lompat, muncul dan lenyap. Kristal melambangkan Akibat dari Tindakan yang dilakukan. Apabila kristalnya Bening, berarti Kebajikan di sana; tetapi kalau Kristalnya Keruh, maka demikian pula Tindakan, Ucapan dan Pikirannya. Dengan Merasakan samsara, menyediakan makanan agar kesadaran berkembang. Rantai ini membuat kesadaran menjadi cukup kuat untuk menyambung ke kehidupan berikutnya.
Gambar tersebut menjelaskan kesadaran menyambung dari satu kehidupan ke kehidupan yang berikutnya, terkadang ke alam yang lebih tinggi dan terkadang ke alam yang lebih rendah. Pada saat kesadaran tersebut timbul, maka pada saat itu pula akan timbul tubuh jasmani.
Rantai Keempat
Batin dan Jasmani (Nāmarūpa)
Tampak gambar dua orang berada dalam satu perahu. Gambar ini melukiskan perpaduan nama dan rupa untuk membentuk manusia. Nama terdiri dari unsur batin sedangkan rupa terdiri dari unsur bentuk, yaitu padat, cair, panas dan udara. Kedua unsur tersebut menyatu sedemikian rupa. Batin dan Jasmani adalah hasil dari kesadaran penyambung kelahiran kembali. Dan dengan adanya kehidupan, maka muncul kesadaran sehari-hari yang menciptakan karma, dan setelah kematian terjadi pada akhirnya batin akan memasuki kesadaran penyambung kelahiran kembali. Maka antara kedua ini hubungannya adalah bolak-balik.
Rantai Kelima
Enam landasan indria (Saḷāyatana)
Tampak gambar bangunan yang masih kosong dengan enam jendela. Gambar tersebut melukiskan enam landasan indria, yang terdiri atas pintu mata, pintu telinga, pintu hidung, pintu lidah, pintuh tubuh dan pintu pikiran. Di alam kelahiran manusia, jika keenam indria berkembang sempurna maka seseorang dapat berkontak dengan dunia luar.
Rantai Keenam
Kontak (Phassa)

Tampak seorang laki-laki dan seorang perempuan sedang pacaran. Gambar ini melukiskan adanya kontak. Pintu-pintu indria yaitu pintu mata, pintu telinga, pintu hidung, pintu lidah, pintuh tubuh dan pintu pikiran akan berinteraksi dengan objeknya masing-masing, yaitu wujud, suara, bau, rasa, sentuhan, dan gagasan. Dengan adanya kesadaran penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, penyentuhan, dan pikiran, maka akan terjadi kontak enam indria, yang tentu dapat memunculkan perasaan dan persepsi.
Rantai Ketujuh
Perasaan (Vedanā)
Tampak seorang yang terkena panah yang membutakan kedua matanya. Gambar ini menunjukan perasaan senang, tidak senang, ataupun netral. Pada saat ada kontak maka pada saat itu timbul perasaan. Jika hal itu menyenangkan maka kita cenderung melekat, tetapi kalau hal itu tidak menyenangkan kita cenderung membencinya. Dari kontak dengan enam indria, dapat membuat seseorang bahagia dan menderita. Pada saat orang memuji anda, anda bahagia. Saat orang mencela, anda menjadi sedih. Perasaan membuat kita buta terhadap sifat alami dari realitas hakiki.
Rantai Kedelapan
Nafsu Keinginan (Taṇhā)
Tampak orang sedang meminum arak. Gambar ini menunjukkan nafsu keinginan yang selalu menuntut dan tidak pernah puas. Orang mengejar pada bentuk, suara, rasa, sentuhan tertentu. Nafsu keinginan ini adalah pelekatan awal yang akhirnya dapat menimbulkan penderitaan.
Rantai Kesembilan
Kemelekatan (Upādāna)
Tampak gambar monyet mengumpulkan buah. Nafsu keinginan yang sudah kuat akan menjadi kemelekatan, seseorang akan melakukan pencarian dan pengumpulan, dari apa yg disukai terus menerus baik berupa pengalaman, benda-benda, sensasi, dan lain sebagainya.
Rantai Kesepuluh
Eksistensi (Bhava)
Tampak seorang ibu yang hamil. Gambar ini menunjukan eksistensi atau penjelmaan. Hasil kumpulan karma yang menghasilkan keadaan mendatang, yang disebabkan oleh nafsu keinginan dan kemelekatan. Penjelmaan ini adalah kesadaran penyambung kelahiran kembali sesuai sebab dan kondisi, yang membuat kita terlahir di alam kehidupan berikutnya.
Rantai Kesebelas
Kelahiran (Jāti)
Gambar ini menunjukan kelahiran. Berdasarkan karma, sebab dan kondisi, orang terlahir dalam salah satu alam tersebut. Kelahiran di alam manusia merupakan kesempatan yang terbaik. Orang dapat terlahir pula di alam neraka, peta, hewan, maupun alam surga. Pada saat kondisinya berbuah maka orang terlahir di salah satu alam tersebut.
Rantai Keduabelas
Usia Tua dan Kematian (Jarāmaraṇa)
Tampak orang tua dan orang mati. Saat terjadi kelahiran akan diikuti usia tua dan kematian.
Dari kelahiran juga akan muncul kesedihan, ratap tangis, penderitaan fisik, penderitaan batin, serta keputsasaan.
Simbol Lainnya
Gambar Raksasa melambangkan waktu. Raksasa tersebut memakan masa kehidupan setiap makhluk dalam lingkaran roda samsara. Waktu yang dimaksud adalah usia kehidupan makhluk. Dengan berjalannya waktu orang tumbuh dari bayi, anak kecil, remaja, dewasa, tua dan akhirnya mati.
Sementara di atas kepala raksasa ada lima tengkorak, hal ini menunjukan 5 lima agregat, yaitu wujud, perasaan, persepsi, bentuk-bentuk batin, dan kesadaran. Kuku raksasa yang tajam memegang erat roda samsara. Hal ini menunjukan selama berada dalam roda samsara, raksasa tersebut tidak memberikan kesempatan makhluk-makhluk untuk keluar dari perputaran tersebut. Apabila ada yang mampu keluar, ini merupakan hal yang luar biasa.
Sementara itu di atas gambar roda samsara ada Buddha yang menunjuk ke arah bulan atau jalan pembebasan. Apa maksud dari gambar tersebut? Buddha menunjukkan jalan kepada makhluk-makhluk untuk keluar dari roda samsara, melalui Empat Kesunyataan Mulia dan Jalan Beruas delapan yaitu Pengertian Benar, Pikiran Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Penghidupan Benar, Daya Upaya Benar, Perhatian Benar dan Konsentrasi Benar.
Manfaat Memahami Paṭiccasamuppāda
Memahami, merenungkan, dan menembus hukum ini memberikan manfaat yang sangat besar, karena Paṭiccasamuppāda adalah salah satu Pandangan Benar yang diajarkan Sang Buddha, yang patut dikembangkan dalam batin untuk menyikapi setiap fenomena kehidupan.
1. Melihat Akar Penderitaan: Membantu kita memahami bagaimana proses munculnya penderitaan (dukkha) dan tumimbal lahir (saṃsāra) bukan karena takdir, melainkan karena adanya kondisi-kondisi pendukung.
2. Jalan Pembebasan: Dengan mengetahui mata rantainya, praktisi dapat memutus rantai tersebut, terutama pada titik awal seperti ketidaktahuan (avijjā) atau nafsu keinginan (taṇhā), sehingga dapat mengakhiri siklus ini dan mencapai pembebasan (Nibbāna).
3. Mengembangkan Kebijaksanaan: Memperkuat pandangan benar dan keyakinan pada hukum karma dan sifat ketidakkekalan (anicca) dari fenomena kehidupan.
2. Jalan Pembebasan: Dengan mengetahui mata rantainya, praktisi dapat memutus rantai tersebut, terutama pada titik awal seperti ketidaktahuan (avijjā) atau nafsu keinginan (taṇhā), sehingga dapat mengakhiri siklus ini dan mencapai pembebasan (Nibbāna).
3. Mengembangkan Kebijaksanaan: Memperkuat pandangan benar dan keyakinan pada hukum karma dan sifat ketidakkekalan (anicca) dari fenomena kehidupan.
Sumber: siddhi-sby, penulis, gemini-3.5














